Blog Suka Suka

Jogja Trip #1 : Pantai Wediombo


Sobat blogger kali ini gue mau critain pengalaman gue menjelajah pantai di Gunung Kidul bareng bekty chan , seseorang yang paling istimewa buat gue..huehuehue. Hampir smua pantai di Gunung Kidul udah pernah kami taklukkan, tracking menembus hutan ke pantai Jungwok, pantai Sedahan, dan pantai pasir putih lainnya bakal gue tulis di postingan gue berikutnya.

Inilah pertama kalinya kami berlibur ke Pantai Wediombo, yang letaknya hampir di ujung timur Gunung Kidul, sekitar 76 km dari pusat kota Jogja.

 

Singkat cerita, kami memutuskan untuk berangkat pada hari Sabtu siang, gue lupa tanggalnya. Awalnya kami cari-cari dulu info tentang Pantai Wediombo. Pantai Wediombo berasal dari kata Wedi : Pasir, dan Ombo : Lebar. Pantai ini emang terkenal dengan pantainya yang cukup lebar dengan ciri khas batuan karang dan pasir putih.

Preview singkat Pantai Wediombo :

Penduduk setempat memang mengungkapkan bahwa nama pantai ini yang diberikan oleh nenek moyang tak sesuai dengan keadaannya. Ada yang mengungkapkan, pantai ini lebih pantas menyandang nama Teluk Ombo, sebab keadaan pantai memang menyerupai teluk yang lebar. Terdapat batu karang yang mengapit, air lautnya menjorok ke daratan, namun memiliki luas yang lebih lebar dibanding teluk biasa.

Tapi, di luar soal nama yang kurang tepat itu, Wediombo tetap menyuguhkan pemandangan pantai yang luar biasa. Air lautnya masih biru, tak seperti pantai wisata lainnya yang telah tercemar hingga airnya berwarna hijau. Pasir putihnya masih sangat terjaga, dihiasi cangkang-cangkang yang ditinggalkan kerangnya. Suasana pantai juga sangat tenang, jauh dari riuh wisatawan yang berjemur atau lalu lalang kendaraan. Tempat yang tepat untuk melepas jenuh.

Wediombo terletak di Desa Jepitu, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunung Kidul. Pantai ini sangat mudah dijangkau bila sebelumnya telah datang ke Pantai Siung. Cukup kembali ke pertigaan di Tepus sebelum menuju ke Siung, kemudian belok kanan mengikuti alur jalan hingga menemukan papan petunjuk belok ke kanan untuk menuju Wediombo.

Letak pantai ini jauh lebih ke bawah dibanding daratan sekitarnya. Beberapa puluh anak tangga mesti dituruni dulu sebelum dapat menjangkau pantai dan menikmati keelokan panoramanya. Sambil turun, di kanan kiri dapat dilihat beberapa ladang penduduk setempat, rumah-rumah tinggal dan vegetasi mangrove yang masih tersisa. Lalu lalang penduduk yang membawa rerumputan atau merawat ternak di kandang juga bisa dijumpai.

Satu Tahun sekali di pantai digelar adat budaya ngalangi yaitu upacara prosesi menangkap ikan dengan cara menggunakan gawar yang terbuat dari akar pohon wawar yang menjalar sebagai jaring yang dipancangkan dari bukit Kedungdowok dan dihalau bersama-sama ke laut oleh masyarakat setempat.
Dalam satu kawasan dengan pantai ini terdapat Pantai Gremeng, Pantai Jungwok dan Pulau Kalong ( sebuah pulau yang dihuni ribuan kalong) yang dapat dicapai dengan tracing sekitar 1,5 KM ke arah timur.

Perjalanan memakan kaktu sekitar 3 jam menggunakan sepeda motor dengan kecepatan rata-rata 70 km/jam. Sangat melelahkan bagi yang gak biasa menempuh jarak jauh. Apalagi jalanan di Gunung Kidul curam dan berkelok-kelok, kalo gue kasih istilah ‘Jalan Naga’. Naik turun dan dikelilingi jurang terjal di kanan kiri jalan. Belum lagi kalo ada truk atau bus mogok di tanjakan..hhehe. Gue pernah ngalami kejadian kaya gitu sob, ada truk mogok di belokan yang menanjak.

Sebelum sampai di lokasi, kami sempet tanya-tanya arah yang tepat tiap kali ada pertigaan yang bikin dilema..hhehe. Maklum, pengalaman pertama sob, lucu dan pastinya berkesan.

Pantai ini juga memungut tarif retribusi bagi pengunjung seperti pantai-pantai lainnya di Jogja. Cukup 3000 aja sob (Rp3000-1sepedamotor-2 orang), kalian bisa menikmati indahnya pantai wediombo.

Yang membedakan dengan pantai lainnya adalah perbukitan karang disekiling pantai, jadi kita harus menuruni kira-kira 50an anak tangga untuk mencapai pantai. Sesampai di pantai, rasa lelah, capek, terbayar lunas! Panorama yang indah, laut biru dan penduduk lokal yang sangat ramah jadi nilai plus pantai ini.

Buat yang rumahnya jauh, lebih baik jam 4 udah harus siap-siap meninggalkan pantai ini karena minim sekali lampu penerangan jalan dari pantai sampai ke Jalan Baron.

Jepretan buat dokumentasi🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s